Persistence Of Vision
Monday, March 20th, 2006payah jg….
banyak sekali animator2 yg mengernyitkan alis " apaan tuh….?"
POV adalah dasar animasi…
dasar sedasar2nya….
persistence of vision di indonesiakan menjadi ‘efek setelah penyebabnya sudah tidak ada yg terjadi pada pandangan’
susah amat… yaa
emang gak bisa di indonesia kan karena ini adalah nama sebuah teori
katanya pertama kali teliti pada jamannya filsuf2 romawi. isacc newton pun memperlajarinya.
penomena ini adalah bahwa otak kita menyimpan data gambar untuk beberapa saat.
seperti kita melihat lampu, trus dimatikan. dalam beberapa perdetik kita masih melihat lampu itu menyala.
setelah bertahun2 berkembang
penemuan2 alat ‘awal animasi’ pun berkembang
alatnya seperti mengintip kemudian gambar2 yg di buat di lingkaran dalamnya diputar
sehingga pada lubang intipnya terlihat bergerak. karena gambar berganti2
alat2 spt ini berkembang terus. sampai seperti film mini. karena bisa diganti2 adegannya.
zoetrope, thaumatrope.
kayaknya di musiumnya gibhli studio ada alat kayak gini deh. tp lebih canggih lagi
alat yg paling sederhana adalah
kertas yg digambar bolak balik burung dan sangkar
bila diputar2 gagangnya maka terlihat burung itu dalam sangkar
dengan pemahaman bahwa mata manusia dan otak
menahan gambar sekitar 1/12 detik sebelum memproses gambar selanjutnya
maka film dibuatlah 24 gambar perdetik, agar benar2 lebih natural tidak terlihat
jerky, ato terliat sebagai gambar diam yg di ganti2.
dari sinilah mulai gambar2 yg disusun berurutan ternyata bisa terlihat seperti bergerak
sebelum disney banyak sekali yg membuat susunan gambar ini.
yg paling terkenal tentu saja gertie the dino tahun 1917, oleh winsor mckay.
dimana si dino berinterkasi dengan mckay, bahkan dia memberi makan si gertie.
unbelievable untuk tahun itu. bahkan untuk tahun sekarang pun masih terhitung top bgt geetohh looh…..
(beli dvd nya disney tresure untuk melihat aksi pioneer animasi ini..)
OK…
kembali lagi ke POV
dengan adanya teori ini (sebenarnya teori ini pun masih dalam perdebatan sampai tahun 80an)
jadi sebenarnya dalam kehidupan nyata ini
kita bergerak dengan ‘inbeetween’ yg tak terhitung….
milyaran jutaaaa bilyoon bla22…
tp kita memang cuman bisa melihat sekitar 25 frame perdetik
(masih diperdebatkan apa mata kita bisa disamakan dengan kamera yg ada frame perdetiknya )
dan laler ijo itu bisa melihat 75 frame lebih perdetiknya
jadi tangan cepatmu untuk menangkap laler itu. bagi dia cuman gerakan lambat saja…
harap maklum yaa kalo jarang2 lu bisa nangkep laler.
dengan kamera high speed yg memutar filmnya lebih dari 25 frame per detik
kita akan mendapatkan gambar2 slow motion
( ingat …! Misalnya : kamera high speed itu menangkap gerakan air jatuh dalam satu detik, dia akan menghasilkan gambar 100 biji. tp begitu kita putar tetap akan 25 frame perdetik / 24 frame perdetik / 30 frame perdetik. Alias air jatuhnya jadi 4 detik )
cukup dulu lah…
capek ngetiknya euy……
banyak sekali yg bisa didapat dari teori ini
antara lain style tex avery yg menstretch inbeetween sebagai solusi minimalis gambar dan motion blur dan menjadikannya bener2 kartun
kalo dalam hal yg bukan animasi spt monitor computer yg ada freshratenya,
ato interlace sistem pada siarain tv, film jelas yg 24 frame itu.
link wiki on POV
cool…!

